Blogspot is being blocked in Vietnam

We are really sad knowing this fact. When we were here in November 2007, we could access blogspot without any difficulty. But since Sunday, Feb 16'08 until now, we can't open any blogspot page.

The strange thing is we still can post our travelling review, since the address of the blogspot dashboard is "blogger.com" not "blogspot.com" :D

Our Vietnamese friends said that it is usually blocked by the goverment (kebebasan berpendapat masih didibungkam disini), but sometimes it is unblocked. Parah..

We are just hoping it will be unblocked soon. Just hoping.
Read more...

Hoi An, The Ancient Town

5-6 Februari 2008

Keberangkatan bus dari Nha Trang ke Hoi An mengalami keterlambatan selama 2,5 jam. Setelah lelah menunggu, akhirnya bus kami meninggalkan kota Nha Trang pukul 21.00.

Pengalaman Tak Menyenangkan

Perjalanan Nha Trang – Hoi An adalah perjalanan terburuk yang kami alami. Bad bad bad driver... Sang supir memutar lagu2 Vietnam, padahal speaker tepat diatas kepala saya yang berada ditempat tidur ditingkat atas. Bukan hanya suaranya yang mengganggu, tapi juga karena sudah malam, kami ingin istirahat. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika speaker diatas kepala anda, padahal anda ingin istirahat! Beberapa lagu berhasil mengalun keras ditelinga saya ketika kesabaran saya mulai habis. Saya datangi sang supir, “Turn off the music”. kata saya kepada sang asisten supir. Tapi apa jawaban yang didapat dari sang supir? “No no no”, dia berkata demikian. Speachless..
Saya meninggalkan sang supir dengan perasaan dongkol antara mau marah, ingin mematahkan CD lagu yang di putar sang supir, what ever to turn the music off!! Tapi takut :p
Ternyata bukan hanya saya yang terganggu, beberapa orang juga melakukan hal yang sama, sampai akhirnya sang supir itu mematikan tape-nya.

Tengah malam pukul 1 dini hari, seusai istirahat ditempat pemberhentian bus, sang supir kembali melakukan hal sama yang membuat semua orang komplain. Tapi semua komplain itu bagaikan angin lalu, tetap tak didengarkan. Kali ini saya minta suami saya, menyuruh sang supir mematikan tape-nya. Suami saya juga tidak tahu apa yang mesti dia lakukan. Tapi lama kelamaan, dia jengkel juga :p
Dia datangi asisten supir, “Slow down the music please”.
Sang asisten menjawab “No”.
“Turn off the music please”.
“No”.
“Why not?”
“No.”
“Why not?”
“No.”
“Why not?”

Klek. Sang supir mematikan tape-nya. Hurray.... we win!! Suami saya berhasil melakukan intimidasi. Pelan2 tapi pasti, tanpa perlu marah2, akhirnya sang supir menyerah..

Kami mengira sang supir sudah kapok menyetel tape. Ternyata tidak demikian. Pukul 06.00 kami kembali dibangunkan dengan lagu yang sama dengan lagu tadi malam. Arrrrrghhhhh !!!!

Karena sudah pagi, ya sudah lah, kami biarkan lagu2 tersebut menghentak2 gendang telinga kami. Hanya beberapa lagu diputar, kemudian dia mematikannya sendiri. Hmm dasar supir aneh pembakar emosi!!


Menikmati Kota Hoi An
Tiba di Hoi An, pukul 08.30. Begitu turun dari bus, cesss, dingin menusuk tulang. Suhu saat itu sekitar 15 derajat celcius. Kami tak menyangka udara begitu dingin, walaupun kami sudah diperingatkan bahwa bulan Januari dan Febuari adalah musim dingin didaerah Vietnam tengah dan Vietnam Utara. Kami diturunkan di sebuah hotel dan mereka menawarkan US$10 per kamar. Wah sayang sekali kami sudah memesan hotel dari Saigon dengan harga US$20 karena kami menyangka bahwa hotel2 akan penuh selama libur Tet.

Kami berusaha mencari hotel yang telah kami booking dari Saigon, yaitu Hotel Thao Nguyen di jalan 500 Hai Ba Trung. Kami mengira hotel tersebut dekat dengan Japanese bridge yang merupakan pusat keramaian di Hoi An, jadi kami memilih berjalan kaki.

Selama berjalan kaki mencari hotel, kami melewati jalan Nguyen Thi Minh Khai dan Tran Phu. Jalan tersebut merupakan salah satu jalan yang masuk kedalam World Heritage. Bagi kami sebenarnya jalan ini hanya berupa deretan rumah tua dan beberapa kuil. Di sepanjang jalan ini, banyak ditemui penjual souvenir, tapi mereka tak agresif.

A temple @Nguyen Thi Minh Khai street


Souvenir shop @Nguyen Thi Minh Khai street


Penjual gong (ada juga gong disini?) disalah satu ujung Japanese Bridge


Jalan Nguyen Thi Minh Khai dan jalan Tran Phu dipisahkan oleh sungai kecil yang lebarnya sekitar 10m dan diatasnya dibangun sebuah jembatan yang dikenal sebagai Japanese Bridge dan menjadi icon kota Hoi An. Konon katanya jembatan ini dibangun untuk menghubungkan antara desa China dan desa Jepang. Silahkan googling kalau ingin tahu sejarahnya :p


FrontView of Japanese Bridge
This is the icon of Hoi An


Side View of Japanese Bridge


Inside the Japanese Bridge

Setelah berjalan, bertanya beberapa kali, capek, dan hampir putus asa, akhirnya kami menemukan hotel kami yang ternyata lebih kurang 1km dari pusat keramaian, wuihhh...

Our room @Thao Nguyen Hotel


Sebagai kompensasi dari lokasi yang kurang strategis, mereka memberikan gratis memakai sepeda. Tapi kami lebih memilih menggunakan motor, karena siang ini, kami ingin ke kota Danang yang berjarak 25km dari Hoi An. Teman-teman kami yang pernah mengunjungi kota Danang selalu mengatakan, there is nothing to see, hanya kota bisnis biasa. Tapi kami -tepatnya suami saya- punya alasan tersendiri mengapa ingin ke kota Danang. Nama kota itu sama dengan namanya :D, alasan yang simple bukan? Mengunjungi kota Danang sudah menjadi mimpinya sejak dia SD. Saat dia tahu ada kota dengan nama Danang di Vietnam, dia selalu sesumbar sendiri bahwa someday I will be there. And it came true now!

Siang hari hingga menjelang sore, kami lewatkan di kota Danang yang merupakan kota terbersih di Vietnam.

Sekembalinya dari kota Danang sekitar pukul 16.00, kami kembali berjalan-jalan di pusat2 keramaian Hoi An. Kali ini kami menuju daerah jalan Bach Dang (Indonesia: pinggir sungai). Pasar ini sangat ramai, orang lokal dan turis bercampur disini. Bahakan ada dermaga kecil untuk tempat bersandarnya kapal yang digunakan untuk menyebrangi sungai buat manusia dan … motor!

Suasana pasar Bach Dang

Take the motorcylce accross the river


Pasar Bach Dang merupakan pasar tradisional dengan beberapa deretan toko penjual souvenir. Pasar tradisional menjual buah, sayur, rempah2, dll. Sedangkan di toko penjual souvenir barang yang biasa ditawarkan adalah dasi sutra, selendang sutra, sleeping bed sutra, dan segala macam yang berbahan dasar sutra. Saya membeli sebuah selendang “sutra” nan cantik yang berbordir kupu-kupu seharga 60.000VND, sedangkan suami saya membeli satu set dasi beserta sapu tangan juga seharga 60.000VND. Satu set dasi ini diletakkan dalam sebuah kotak yang motif kain pembungkus kotak sama dengan dasinya. Nampak cantik dan mewah.
Tapi mesti diingat bahwa sutra ini bukanlah sutra asli. Tips yang pernah saya baca mengatakan jika sutra asli tidak meleleh, tapi tebakar jika dibakar dengan api. Entah, saya belum pernah mencobanya karena saya tidak memiliki sutra asli :p

Belanja di pasar Bach Dang ini lebih murah dibandingkan dengan toko-toko yang ada dipinggir jalan lainnya. Satu set dasi yang dibeli suami saya ditawarkan seharga US$5-7 (80.000 – 120.000VND) diluar pasar Bach Dang.

Ada juga wisata lain yang ditawarkan disini, yaitu mengunjungi rumah-rumah kuno dan museum. Untuk memasuki rumah-rumah kuno tersebut, turis diharuskan membayar admission fee. Adapula beberapa rumah kuno yang dibuka secara gratis. Tapi karena kami tidak terlalu tertarik dengan wisata tersebut (apalagi membayar!) kami melewatkannya.

Museum of Folklore


Kota Hoi An nampak cantik dimalam hari. Kami sempat meremehkannya, karena pada saat siang hari yang nampak di mata kami hanyalah deretan bangunan tua yang berlumut dan lembab, dan juga sebuah sungai hitam. Walaupun hanya deretan bangunan tua, kota ini merupakan salah satu kota yang masuk dalam World Heritage.

The Dragon, with Japanese bridge background


Colorful lantern stall


Malam itu kami beruntung memiliki kesempatan untuk menyaksikan sebuah atraksi unik di pinggir sungai tepat di depan Japanese bridge. Sebuah atraksi FolkDance dari negara Denmark meramaikan suasana di area Japanese bridge. Mereka semua khusus datang dari Denmark untuk mengadakan pertunjukan di beberapa kota di Vietnam termasuk di Hoi An. Para penari folkdance ini hampir 90% sudah kakek-kakek dan nenek-nenek, hanya satu atau dua orang yang tampak masih muda. Tapi herannya mereka sanggup menari selama kurang lebih 1,5 jam dengan gerakan yang kebanyakan berputar-putar tanpa pusing.

A couple of Folkdance dancer


Swing...


The musician of Folk Dance



Video of Folk Dance from Denmark


Diujung acara, setiap penari folkdance memilih pasangan dari penonton untuk diajak menari bersama. Dan, suami saya kebagian rejeki itu. Suami saya yang selalu mengidolakan negara Denmark itu, dengan antusias dia mengiyakan ajakan seorang ibu penari folkdance (padahal sebelumnya dia mengeluh kakinya sakit karena peristiwa tabrakan di kota Danang :D). Kali ini giliran saya yang memotret dia. Dengan kemampuan pas-pasan menggunakan kamera profesional, saya asal jepret aja. Pokoknya bisa mengabadikan kenangan menari itu. Gerakan menarinya yang kaku, kadang terlambat, kadang salah membuat saya tersenyum-senyum sendiri.

Sang penari dadakan
Kaku ya? :p

FolkDance team, at the end of attraction

Selama 15 menit suami saya menari FolkDance, setelah itu dia mengeluh pusing-pusing karena gerakan berputar yang terlalu banyak. Tapi kalau namanya senang, apapun pasti dilakukan ya??

Acara selanjutnya adalah makan malam yang sempat tertunda 1,5 jam karena melihat folkdance. Pilihan kami jatuh ke Cafe Can yang terletak di jalan Bach Dang. Semenjak siang cafe ini menarik perhatian kami karena selalu padat pengunjung. Kafe ini berada pada bangunan tua di pinggir sungai. Lampu warna kuning mendominasi kafe ini dan memberikan kesan romantis.

Cafe Can @Bach Dang Street


Kami memesan 3 buah menu dan semua rasanya mak nyuss. Yang paling menarik bagi kami adalah menu white rose dan fried wonton. White rose? Terdengar aneh ya, tapi makanan ini tidak terbuat dari mawar putih kok, seperti pangsit rebus yang kulitnya berwarna bening dengan isian udang yang rasanya nagih. Sedangkan fried wonton, bentuknya seperti pangsit goreng dengan topping saos dan daging. Yang jelas, highly recommended!

White Rose

Fried Wonton


Makan malam di Cafe Can, mengakhiri hari kami di Hoi An. Kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan esok pagi kami segera berangkat ke Hue.


Summary Note:

Where to eat:

Cafe CAN
Add : 74 Bach Dang, Hoi An
Phone : 0510.861525
Price : ?? (I forget it, but it's <50.000vnd style="font-weight: bold;">Where to sleep:
Thao Nguyen Hotel **
Add : 500 Hai Ba Trung, Hoi An
Phone : 0510.921921
Price : US$20
Rent Motorbike : US$8
Status : Not Recommended (due to for its location)
Recommended for its hospitality and services, free use of bicycle

Where to shop :
Bach Dang Market (market at the riverside) offers cheaper price than the shop at the road side, but bargaining is a must, 50% or less.
Read more...

Our Second Visit To Nha Trang

2 - 3 Februari 2008

Yeah, kami sudah pernah mengunjungi Nha Trang bulan November yang lalu. Tapi petualangan yang akan kami lewati kali ini berbeda. Kalau sebelumnya kami hanya berwisata belanja bersama teman2 lokal kami, kali ini kami lebih memilih untuk berenang menemani ikan2 dilaut untuk mengobati rasa kecewa kami pada perjalanan sebelumnya.

Bus yang kami tumpangi meninggalkan hiruk pikuk kota Saigon pada pukul 21.00, terlambat 1 jam dari jadwal karena administrasi bus yang sedikit kacau. Perjalanan menuju Nha Trang agak terhambat karena adanya beberapa pembangunan jembatan pendek melintasi sungai2 kecil. Yah di Vietnam banyak sekali sungai, hampir setiap kota dilewati sungai. Tapi dengan menggunakan sleeper bus, perjalanan panjang ini tidak terlalu melelahkan, karens posisi yang setengah tidur tidak membuat kaki pegal. Sleeper bus inovatif menurut saya, bus antar kota di Indonesia mungkin bisa meniru ide ini.


Sleeper Bus


Inside the sleeper bus


Kami cukup beruntung mendapatkan tepat didepan kursi paling belakang yang kursi terpisah satu sama lain, walaupun masih kurang nyaman juga karena dikiri kanan kepala kami terdapatkan kaki para backpacker yang bisa dibayangkan bagaimana aromanya. Sedangkan di kursi paling belakang ada 5 kursi yang berjajar tanpa pembatas apapun antar kursinya. Saya melihatnya sedikit risih, apalagi tidur bersebelahan dengan orang tidak dikenal.


Pukul 08.30 keesokan harinya, kami tiba di pantai Nha Trang, Kami langsung check in menuju hotel yang sama dengan hotel yang kami tempati dulu, yaitu Hotel Thien An. Kali ini kami hanya membayar US$8 (120.000 VND) untuk kamar berfasilitas 2 tempat tidur (kedua-duanya double bed), AC, dan air panas, padahal kunjungan sebelumnya bersama teman lokal kami yang memiliki agen tour, kami justru harus membayar 150.000 VND. Loh kok??

Our Hotel in Nha Trang


Karena keterlambatan bus tiba di Nha Trang, kami batal mengikuti acara snorkeling di Mun Island yang dimulai pada pukul 07.30. Kami menunda acara snorkeling untuk besok pagi. Jadi hari ini kami hanya city tour.

Makan pagi kami lewatkan pada pukul 10.00 dengan sepiring nasi ayam goreng crispy di Loc Tho’s Kitchen seharga 27.000VND. Rasanya mak nyus!


Rice with Chicken Crispy


Long Son Pagoda
Setelah perut tidak berteriak2 lagi, kami menyewa motor manual dari hotel untuk 12 jam untuk berkeliling kota. Penyewaan motor dan sepeda banyak ditemui di sekitar pantai Nha Trang. Untuk sepeda, penyewa mesti membayar 20.000VND, sedangkan untuk motor sekitar 50.0000-60.000VND untuk motor manual, dan 100.000VND untuk motor automatic. Kami juga harus mengeluarkan uang ekstra juga untuk mengisi bensin, karena uang sewa tidak termasuk bensin. Satu liter bensin oktan 90 berharga 13.000VND.

Berbekal peta kota Nha Trang yang kami beli di agen tour seharga 10.000VND dan suami yang seperti GPS, tau segala arah asal ada peta, Long Son pagoda menjadi tujuan city tour kami yang pertama. Sebuah pagoda yang berdiri megah di atas bukit dengan patung Budha putih di puncaknya.

Budha Statue @Long Son Pagoda


Kami tidak perlu membayar tiket masuk ke pagoda ini alias gratis, tapi kami melihat banyak sekali anak2 kecil penjaja dupa yang cukup mengganggu karena berkali-kali menawarkan dupanya, padahal jawaban kami selalu “No, no, no.”. Bahkan ada anak yang berani mencolek p*nt*t saya (arrrghhh !!!). Tak kalah dengan saya, suami saya juga dicolek2 perutnya. Sambil melihat ke arah suami saya, dengan jari telunjuknya anak penjual dupa itu menusuk2kan jarinya ke perut suami saya (yang -sedikit- buncit) sambil berkata “Budha, budha”.
Hahaha, walaupun kesal dengan anak itu karena memaksakan dagangannya, saya menahan tawa.

Ada juga yang mengaku dari yayasan anak2 dengan menunjukkan tag name di dadanya untuk meyakinkan korbannya, yang menawarkan seamplop kartu pos seharga 100.000VND sebagai sumbangan untuk anak2 tersebut, tapi buku panduan kami “Lonely Planet Vietnam” telah memperingatkan kami agar kami tidak tergoda untuk menyumbang kepada anak2 itu. Lebih baik menyumbang di kotak yang telah disediakan didekat patung Budha dipuncak sana. Pagoda ini nampak kurang terawat dan tidak ada satupun penjaga yang tampak disana. Oya, disini juga terdapat patung Budha sepanjang kurang lebih 10m dalam posisi tertidur.

Reclining Budha, about 10 metres long


Nha Trang Cathedral

Side View of Nha Trang Cathedral


Front View of Nha Trang Cathedral


Siang yang menyengat saat itu tidak memumpuskan keinginan kami melanjutkan perjalanan ke Nha Trang Cathedral. Cathedral ini terletak disebuah bukit, tampak megah ketika kami memandangnya dari bawah. Pintu masuk gereja yang terletak disamping dan agak tersembunyi hampir membuat kami membatalkan niat mengunjunginya. Untunglah ada seorang bapak cyclo (indonesia : becak) yang menunjukkan arah pintu masuk ke katedral.
Katedral ini memikat hati kami dengan arsitektur eropanya yang cantik. Lukisan Yesus dan Bunda Maria dari stain glass yang menghiasi interior katedral ini, tapi sayang kami tidak bisa masuk. Mengintip dibalik lubang2 angin, hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun disini.

Dalam perjalanan pulang, mata kami secara tak sengaja melihat sebuah bangunan unik. Penasaran dengan bangunan itu, kami memutar haluan untuk mencari dimana dan apakah bangunan tersebut. Tak sulit mencari bangunan yang kami lihat itu walaupun bangunan itu terletak dalam jalan kecil yang tidak beraspal. Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah gereja khatolik. Desainnya yang unik membuat kami kagum, perpaduan yang sempurna antara budaya setempat yang berupa pagoda dan agama Khatolik. Kami juga melihat, Bunda Maria menggunakan ao dai, baju khas Vietnam. Dengan perpaduan budaya seperti ini, agama yang baru pastilah lebih mudah di terima.

Culture and religion blending, pagoda (Chinese influence) and Church


Oya, satu lagi gambar unik yang berhasil kami tangkap di Nha Trang.

It shows you how to bring bring refrigerator with motorcycle :p


City tour berakhir disini. Malam harinya, kami berputar-putar mengelilingi kota Nha Trang menikmati kilauan lampu-lampu yang jatuh di air. Angin di pinggir pantai Nha Trang hari itu bertiup sangat kencang, membuat kami tidak dapat bertahan lama duduk di pinggiran pantai dan mengakhir malam dengan semangkuk Pho 24.

Taman yang dibangun sepanjang pantai Nha Trang


Book exchange self, @Nha Trang beach

Pagi menjelang, kamipun bersiap untuk melakukan snorkeling di Mun Island (Vietnam : Hon Mun). Tour yang kami pilih ini adalah snorkeling saja supaya bisa ber-snorkeling lebih lama, dan kami harus membayar US$10 per orang. Ada jenis tour lain yang hanya membayar US$6-8. Tour tersebut mengunjungi banyak pulau2 kecil, disediakan pesta buah tropis, floating bar party dimana turis bisa menikmati segelas wine diatas pelampung. Untuk diving, US$30 harus dikeluarkan dari kantong. Semua perlengkapan snorkeling dan diving akan dipinjami.

Kami dijemput di hotel kami pada pukul 07.45, kemudian menjemput beberapa orang yang ikut tour bersama kami. Total jumlahnya 5 orang termasuk kami. Hmm sedikit ya..
Kemudian mobil yang menjemput kami berangkat menuju pelabuhan. Disana kami telah ditunggu sebuah kapal yang akan membawa kami ke Mun Island.

Kapal pengantar ke Mun Island


75 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Mun Island dengan kapal kami. Sebenarnya tidaklah terlalu jauh jarak antara Mun Island dengan pelabuhan Nha Trang, kami mengira-ira sekitar 10km, tapi kapal kami bukanlah kapal speed boat, jadi jalannya teramat lambat.

Jagoan selam kecil


Floating Village, on the way to Mun Island


Begitu semangatnya ketika kami sampai ke lokasi snorkeling yang pertama. Lokasinya terletak di pulau yang bertebing2 batu, kami tidak boleh terlalu dekat dengan batu atau naik ke batu2, begitu pemandu wisata itu memperingatkan kami. Dengan memakai life jacket (saya sadar bahwa saya adalah tipe orang yang easy-to-be-panic :p) saya menceburkan diri ke air laut menyusul suami yang sudah lebih dahulu masuk. Tapi brrrrr.... wuaduh dinginnya ... walaupun kedinginan, saya memaksakan diri untuk mengikuti suami yang semangat ber-snorkeling. Ternyata tidak seperti bayangan saya ketika bersnorkeling di Pulau Sepa (Pulau Seribu), visibilty air laut disini jelek, kami tak bisa melihat dengan jelas dibawah air. Sinar matahari yang tak begitu terik menambah tak jelas pemamandangan bawah air.

30 menit didalam air, saya menyerah. Air yang dingin membuat nafas saya ngos-ngosan, dan tenggorokan kering karena bernafas dengan mulut. Saya naik ke kapal kembali, dan 30 menit kemudian saya masih tidak berhenti menggigil.

Kapal berada kurang lebih 1 jam di sopt pertama, kemudian beralih ke spot kedua yang (ternyata) tak jauh dari spot pertama. Mungkin kira2 hanya 100meter dari spot pertama. Sedikit kecewa karena kami menyangka kami akan dibawa ke pulau yang berbeda di spot yang kedua. Saya sudah tidak berani masuk ke air, jadi saya hanya menunggu di kapal.. sedihnya… Suami saya masih semangat, dia mencoba lagi spot kedua ini. Dan dia bilang, disini lebih bagus dan lebih jelas. Tapi ketakutan saya terhadap rasa dingin, mengalahkan keinginan saya mengintip kehidupan laut ditempat ini.


Kapal-kapal berkumpul pada spot diving

Turis yang bersnorkeling dengan life-jacket dan pelampung


Satu jam berlalu di spot yang kedua ini, kamipun mengakhiri perjalanan snorkeling kali ini dan kembali ke dermaga. Waktu menunjukkan pukul 12.30 ketika kami diantar dari dermaga ke tempat agen tour untuk makan siang. Menu seadanya menjadi makan siang kami.

Kami mengistirahatkan diri di hotel setelah selesai bersnorkeling sambil menunggu waktu berangkat pukul 18.30 menuju kota selanjutnya yaitu Hoi An yang berjarak sekitar 500km dari Nha Trang.

Summary Note:
Where to sleep:
Hotel Thien An
Add: 12/1 Hung Vuong, Nha Trang
Telp: 058.527037
Email: hotelthienan@yahoo.com
Price: US$8 / night.
Status : Recommended for budget traveller, just about 200m away from beach.

Where to eat:
Loc Tho’s Kitchen
Add: Hung Vuong Street, Nha Trang
Telp: (84-8) 58.534890
Price: 27.000 – 30.000VND for Rice with Chicken
Status : Recommended

Where to book for Snorkeling & Diving:
Padi Dive Center
Add: 24 Hung Vuong Street, Nha Trang
Telp: (84-8) 58.524491
Email: VExplorer@pmail.vnn.vn
Price:
$8 for tour to the islands.
$10 for snorkeling (only snorkeling, 2 spots)
$30 for diving
Status : Recommended


Read more...