Showing posts with label Vietnam. Show all posts
Showing posts with label Vietnam. Show all posts

Melancong ke Perbatasan Vietnam-Kamboja

Visiting Date : March 14, 2009

Ke perbatasan? Wih ngapain ya... Bayangan yang terlintas biasanya adalah perbatasan itu serem, dijagain ketat banget sama tentara. But, kami ngga ke perbatasan seperti itu kok..

Kali ini kami bersama beberapa teman menuju ke Moc Bai, sekitar 70km dari Ho Chi Minh. Daerah ini merupakan perbatasan Vietnam dan Kamboja. Kami berangkat pukul 7 pagi, terburu waktu untuk menyantap sarapan pagi spesial dekat Chu Ci Tunnel. Nasib baik dipihak kami, sarapan yang kami kejar ini masih ada. Untunglah...
Penasaran? Inilah yang kami makan, namanya Bún Giò Heo, semangkuk bihun yang lebar seperti kwetiauw, beserta potongan kaki babi. Kuah manisnya sangat spesial, dan satu lagi yang bikin kami heran, ada semacam sambal terasi terhidang dimeja sebagai pelengkap dan rasanya pun mirip sambal terasi, really!!


Ada pengalaman menggelikan dan (sedikit) menjengkelkan di tempat itu. Di sebelah rumah makan Hiu ini, ada seorang pedagang gorengan, mirip seperti onde2, suami saya begitu tertarik memotretnya, karena mirip dengan onde2 (tapi tanpa wijen). Kamera diambil, posisi siap memotret. Tiba2 ibu penjual gorengan itu berteriak dan mengomel!! Dia tidak mau di foto!! Halah!!! Whatever the reason, mestinya ngga usah teriak juga kami ga akan moto kok.. bikin jantung mau copot aja.. So mesti hati2 kali ya kalo mo motret, mesti permisi permisi dulu, nanya objeknya mau di potret ga. Yah, pelajaran yang berharga.. masih untung ga dilempar gorengan panas hehehe...

Perjalanan berlanjut sekitar 1 jam lagi untuk sampai ke Moc Bai. Kami menyempatkan diri berfoto2 didaerah perbatasan ini, mengintip sedikit bangunan khas Kamboja yang hanya tampak atap emasnya, hehehe... Kalau ingin masuk ke Kamboja, kami mesti bayar US$25 untuk visa on arrival. Mau menghemat biaya visa ini? Ada banyak calo disekitar situ, mereka menawarkan jasa untuk mengantar kita sampai masuk Kamboja tanpa membayar visa. Entah bagaimana detailnya sih, kami tidak (mau) mencoba..




Nah ini tujuan utama kami ke Moc Bai, yaitu ke Duty Free Shop :D di perbatasan ini, banyak sekali Duty Free Shop disini. Tujuan pertama kami adalah DC Duty Free Shop. Untuk sampai ke tempat ini agak rumit, mesti masuk ke pintu2 teralis mirip tempat antri karcis pertandingan bola yang hanya cukup dilewati satu orang, kemudian kami mesti naik mobil listrik sepanjang kurang lebih 200m untuk menuju toko duty free. Jadi untuk kesini, rasanya perlu ada teman lokal yang menemani, atau paling tidak orang yang pernah kemari supaya tidak tersesat.



Nah untuk bisa berbelanja disini, kami mesti menyewa KTP penduduk lokal dengan tarif 30.000 Dong per KTP. Para joki KTP ini, biasanya berada disekitar pintu masuk duty free shop ini. Sang empunya KTP akan mengikuti kami selama kami berbelanja, sambil membawakan troli belanjaan kita... Aihhh, sedikit risih plus kasian (abis kita cuman bolak balik, liat kiri kanan, dan belanjaannya dikit pula hehehe) sih.. ngga biasa jadi juragan yang kemana2 dibawakan trolinya, hehehe...

Harga yang ditawarkan disini cukup murah. Beberapa barang kebutuhan sehari2 yang masuk secara legal di Vietnam, bisa selisih sekitar 10%. sedangkan untuk barang impor yang tidak masuk supermarket2 di Vietnam, selisih harganya bisa 50%. Begitu juga dengan kosmetik, selisihnya bisa 50%. Tapi suami saya ngga mengjinkan saya membeli kosmetik disini, khawatir kalau2 stok yang ada merupakan barang2 kadaluarsa..bisa jadi sih..

Bangunan duty free ini mirip model supermarket Makro jaman dulu, rak-raknya tersusun tinggi, dan lantainya hanya berupa plester semen. Dulu hanya ada 1 Duty Free didaerah Moc Bai ini, tetapi sekarang sudah mulai banyak toko2 lainnya, sehingga DC Duty Free tidak lagi terlalu ramai.

Belanja di DC Duty Free ini, maximal 500 ribu Dong per KTP. Jadi kalau belanjaan lebih dari itu, harus menyewa joki lain sesuai dengan jumlah belanjaan. Untunglah kami masi terkontrol, belanjaan kami hanya 400ribu Dong. Oya, KTP para penduduk lokal ini, akan direset lagi setelah 2 minggu, lama ya, padahal saya kira setiap hari akan direset.

Satu hal yang mengejutkan lagi, disini data penduduk sudah terkomputerisasi. Nomer KTP joki tsb tinggal diketik di kasir, dan langsung keluar nama sang pemilik KTP. Wah hebat ya.. Indonesia kalah dengan Vietnam? how come?

Dari DC Duty Free, kami berpindah ke Duty Free yang lain. Kali ini bukan berupa supermarket, tapi berupa ruko2. Sayangnya banyak ruko yang masih kosong dan kawasan kedua ini sepi. Disini kami boleh belanja dengan menunjukkan passport, dan masih dengan batas maksimal 500ribu Dong.

Masih ada beberapa Duty Free lainnya, tapi kami tidak mengunjungi semua duty free tersebut. Kami sudah capek dan kepanasan. Kami pun meninggalkan Moc Bai untuk kembali ke Ho Chi Minh pada pukul 14.30.
Read more...

Mencari Yesus di Vung Tau

Visiting Date : 4-5 July 2008

Rio De Janeiro a la Vietnam
Jesus statue on the top of hill


Hari ini hari Jumat, masih jam 6 pagi lagi, belum waktunya weekend yah? Tapi kami sudah tiba di pelabuhan hydrofoil di Ho Chi Minh. Kami hendak menuju kota Vung Tau. Vung Tau sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan darat, tapi menurut teman2 lokal kami, jalan darat menuju Vung Tau sangat ramai dan resiko kemacetan cukup besar. Jika lancar, waktu yang diperlukan untuk mencapai Vung Tau 2 jam, tak terlalu jauh bedanya dengan naik hydrofoil yang memakan waktu 1,5 jam.

Tiket hydrofoil per orang di jual seharga 140.000 Dong. Orang asing dan orang lokal dikenakan tarif yang sama. Kapal Hydrofoil ini di operasikan oleh 3 perusahaan yaitu Petro, Vina, dan Green Lines. Mereka melayani secara bergantian penyeberangan HCM-Vung Tau pulang pergi setiap 30 menit sekali. Bagian depan kapal hydrofoil ini akan terangkat keatas seperti setengah terbang jika sudah berjalan. Keadaan spt ini kurang menguntungkan untuk perjalanan di atas laut, karena menimbulkan goncangan yang besar di bagian depan. Padahal untuk mencapai Vung Tau, kami melewati sungai dan juga sedikit laut. Jadi kami memilih untuk duduk di belakang untuk menghindari goncangan2 itu.

Pelabuhan di Vung Tau
jauh dari kesan kumuh dan sarang preman

Mencari hotel di Vung Tau tidak lah sulit, mulai dari hotel kelas melati sampa yang berbintang ada disini. Tapi kebanyakan hotel2 murah, pelayannya tidak bisa berbahasa Inggris. Kami memutuskan untuk mencari hotel yang "sedang-sedang" saja plus pelayannya bisa berbahasa Inggris. Tiba lah kami di Hotel Victoria, dengan tarif 650.000 VND per hari. Lumayan mahal untuk level hotel bintang 2. Tapi kami kamar menghadap ke arah pantai. Pantai?? Sudah membayangkan pasir putih pantai ya? Sayang sekali, disini ngga ada pasir putih, yang ada pasir dan air yang berwarna kecoklatan dan ombak yg besar. Di Vung Tau pantainya memang tak bagus, kebanyakan yang bermain air disini hanya orang lokal. Dan Vung Tau merupakan kota industri, jadi air lautnya mau tidak mau pasti tercemar.

Pedestrian di Vung Tu sangat bagus. Sepanjang pantai dibangun pedestrian yang lebar dan nyaman untuk berjalan2. Begitu jalanan untuk kendaraan bermotor, sangat lebar, mirip sebuah jalan tol. Sebuah kota pantai yang tertata rapi.
Tapi sayangnya keindahan itu hanya berada disepanjang pantai, kalau sudah masuk ke kotanya, jalanan tak lagi lebar dan rapi.

Lan Rung Seafood Restaurant

Makan malam kami lewati di sebuah restauran seafood terbesar di Vung Tau, Lan Rung namanya. Tempatnya menarik, terletak di pinggir pantai, dan dibangun bak istana putri di negeri dongeng. Tempat ini jg menyediakan hotel dengan harga tak terlalu mahal, sekitar 500.000 VND. Soal rasa makanannya, so-so saja.. dan sayang pelayanannya juga tak cukup bagus..

Electric car which takes us around Vung Tau City

Keesokan harinya kami berkeliling kota Vung Tau, dengan menyewa sebuah mobil listrik yang bisa dinaiki maksimal 3 orang. Dengan harga 150.000 VND per mobil, kami diajak berputar kota Vung Tau selama kurang lebih 1 jam. Mobil listrik ini tidak bisa lari kencang, bahkan kadang terasa melambat saat ada tanjakan kecil. Wah kami jadi was2, jangan2 macet ato listrik habis dan kami harus mendorong mobil ini.... untungnya tidak, kami berhasil selamat sampai di hotel :p

Sebelum pulang ke HCM, kami menyempatkan diri mampir ke Rio De Janeiro ala Vietnam, yaitu patung Yesus yang berada diatas bukit yang memberkati kota. Dengan membawa ransel berisi laptop dan pakaian, kami menaiki tangga demi tangga menuju patung itu. Kami menyepelekan ketinggian menuju patung Yesus itu... padahal ternyata letaknya sangaaatt tinggi. Kami harus berjalan tertatih-tatih menaiki tangga demi tangga itu..
wuihh.. akhirnya.. sampe juga kami di puncak bukit itu. 1 jam waktu yg kami perlukan untuk menuju patung itu + istirahat setiap kali kami kecapekan..

Shining Jesus

A part of Vung Tau City, seen from above

Melihat pemandangan dari atas memang selalu breath-taking, begitu pula disini. Kami begitu menikmatinya.

Oya disebelah patung Yesus ini, ada sebuah meriam juga loh, saya bingung apa gunanya ya? dan bagaimana cara membawanya kemari ya? Wong yang cuman bawa badan aja rasanya begini...

Turun dari bukit ini sama sekali tidak melelahkan, kami hanya perlu 15 menit utk menuruninya dan yang pasti tanpa istirahat. Tapi ternyata kaki kami gemetaran juga loh untuk menahan berat badan ketika turun tangga.

PS : Ternyata pegel karena efek naik tangga ini berlangsung sampe 4 hari kemudian.. siap2 bawa salonpas ato counterpain ya klo kemari..


Summary Note :

Where to sleep
Victory Hotel
149 Thuy Van Street
Ward 2, Vung Tau City
Telp: +84-64-523060
Email: victoryhotel@hcm.vnn.vn
Price : 600.000 - 750.000 VND

Where to eat
Lan Rung Seafood Restaurant
03 Ha Long
Ward 2, Vung Tau City
Telp: +84-64-526009/522341

Accomodation
Rent electric car for Vung Tau city tour at Bien Dong Ocean Park
8 Thuy Van Street
Vung Tau City
Website : www.khudulichbiendong.com
Price : 150.000 VND per one tour
Read more...

Nha Trang, Pearl of Vietnam

Tak sabar rasanya menunggu malam hari segera tiba. Kerja jadi tidak konsentrasi. Pre-vacation syndrome istilah saya. Perjalanan kali ini saya tidak hanya berdua dengan suami, tapi juga bersama-sama dengan teman2 kantor suami, ke daerah lebih utara lagi yaitu Nha Trang, 450km dari Ho Chi Minh. Daerah ini adalah daerah pantai, konon katanya (menurut review beberapa blog tetangga) pantainya bagus.

Pukul 18.30 kami berangkat dari apartemen menuju kesebuah jalan namanya De Tham, sekitar 2 km dari pasar Ben Thanh. Di jalan ini banyak sekali agen tour dan tentu saja banyak turis. Kami menuju salah satu agen tour yang telah kami pesan, beberapa teman menunggu disana. Oya, banyak sekali kafe disini, dan rata2 yang mampir kesitu adalah bule, yah memang harga makanannya mahal, padahal rasanya, jangan ditanya. Cumi yang kami makan keras sekali, seperti sandal!!

Bus yang kami akan kami tumpangi berangkat pukul 20.00 tepat. Kursi tempat duduk di bus ini tak cukup nyaman buat saya, karena jarak antar tempat duduk yang sempit dan orang2 melandaikan kursinya secara maksimal. Apalagi suami saya, ukuran badan dan kakinya ukuran bule.. Kami sempat melirik pada bus tetangga, rumput tetangga memang selalu lebih hijau, tapi yang ini memang lebih hijau! Bus tetangga bukan berkursi, tapi ber-tempat tidur dan bertingkat 2!! wah enaknya pikir kami.. mestinya kami naik yang itu. Bisa tidur dengan nyenyak klo berada disitu. Oya bus yang kami tumpangi ini berharga 160.000 VND pp/orang. murah banget kan?

Perjalanan kami temput sekitar 10 jam. Tidur kami kurang nyenyak, karena supir bus berkali2 menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan (padahal ini kan bus travel, protes kami dalam hati!) dan setiap kali ada yang naik atau turun pak supir menghidupkan lampu di dalam bus. Silau, siapa coba yang tak bangun?

Perjalanan melelahkan berakhir pada pukul 06.00. Kami di antar ke hotel di dekat pantai Nha Trang. Backpacker hotel dengan tarif 150.000VND dengan fasilitas 2 tempat tidur dengan ukuran queen size, kamar mandi dengan bathtub, air panas dan AC. Murah!

Tak ingin menyiakan hari2 liburan kami, kami langsung jalan2 disekitar pantai setelah selesai mandi. Jarak pantai dari hotel hanya sekitar 300m. Di pinggir pantai ini berdiri jajaran hotel2 bagus, yang jelas pasti hotel berbintang2. Disepanjang pantai ini telah dibangun pedestrian yang nyaman sekali untuk berjalan2, rapi dan bersih. Tapi soal pantai.. jangan bandingkan dengan keindahan Gili Trawangan di Pulau Lombok atau di Pulau Sepa, Kepulauan seribu.. Pulau2 itu jauuuh lebih indah dari pantai disini. Pasir disini ga berwarna putih,tapi kecoklatan dan lembut. Ombak di Nha Trang sangat besar. Saya hanya melihat orang2 lokal yang bermain2 dengan ombak dan air laut yang agak keruh. Jadi, jangan harap bisa snorkling disini. Untuk snokling, ada beberapa pulau kecil yang biasa dipakai untuk snorkling yaitu di Mun Island. Tapi sayang, kali ini teman2 lokal kami tidak menginginkan ber-snorkling, mereka lebih senang shopping rupanya. Oya pasir disini ga putih bersih, sedikit kecoklatan tapi lembut.

Salah satu sisi pantai Nha Trang..
Pantai Nha Trang tidak indah, tapi well-developed



Ombak besar, dan pasir kecoklatan.
Where is the beautiful spot? Do you find it? I didn't..


Siang ini kami bersama teman yang lain menuju ke sebuah pantai berjarak 28km dari panta Nha Trang. Pemandangan menuju ke pantai itu cukup indah, jalan meliuk2 diantara tebing2 tinggi, tapi sekaligus berbahaya karena tebing itu sepertinya rapuh, dan banyak peringatan agar2 berhati2 terhadap longsoran batu. Di benak saya, saya membayangkan pantai berpasir putih nan indah.

Pantai yang terletak 28km dari Nha Trang
Kami tak menemukan keindahan pantai ini, yang menyebabkan kami diajak kemari

Kami hanya melewatkan siang hari dengan duduk dan ngobrol dipinggir pantai,
sambil bakar2 cumi dan mereka minum bir!

Sambil sedikit ngedumel, karena pantai yang kami kunjungi kali inipun tak sebagus bayangan kami. Ombaknya besar. Tak ada indah2nya sedikitpun. Disini kami hanya duduk dan bakar2an cumi, makan telur puyuh rebus. Kami memilih minum sebotol pepsi, teman2 lokal kami memilih meminum bir.

Dari pantai, kami beranjak menuju ke tempat pemandian lumpur. Teman2 kami memilih mandi lumpur, sedangkan kami berdua memilih untuk pijat karena kami ngga bawa baju ganti. Sebenarnya di sekitar pemandian lumpur ini, banyak yang menjual baju2 renang dengan berbagai model, dengan harga yang murah sekali, untuk baju renang wanita mereka menjual dengan harga 50.000VND dan untuk celana renang laki2, mereka memberi harga 30.000VND. Alasan utama sih sebenarnya suami saya jijik dengan lumpur itu sendiri!

Papan bilboard di pemandian lumpur


Ini dia tempat mud-bath..

Suasana di dalam pemandian lumpur.. cukup menyenangkan.. Oii .. mbak kamera disini..

Ini dia teman2 kami yang melakukan mud-bath
Do you interesting?


Malam hari itu hanya kami lewatkan dengan makan malam. Kemudian berjalan-jalan disekitar pantai Nha Trang dan menikmai suasana malam disana. Tak banyak acara menarik kami lewatkan hari ini. Kecewa dengan agenda acara yang ada. Kami sama sekali tak menikmati tour hari ini.

Pembukaan perayaan Natal di Yasuka Hotel, Nha Trang

Pagi menjelang, sarapan kami lewati dengan makan Pho. Kemudian, kami mengawali hari ini dengan menuju sebuah pasar yang berjualan souvenir dan makanan khas Nha Trang. Di pasar ini kami menjumpai banyak sekali penjual asesoris dari mutiara, dan harganya realatif murah. Untuk seuntai kalung mutiara, cuma harus membayar 70.000 VND. Pedagang mutiara disini berani membuktikan keaslian mutiaranya dengan membakarnya dengan korek api. Jadi apa lagi yang kurang meyakinkan keasliannya? Selain itu, banyak juga penjual jam 'bermerek'. Teman lokal kami bercerita bahwa temannya ada yang berbisnis jam seperti itu. Rangka jam itu memang asli, mereka mendapatkannya dari jam2 bekas, sedangkan mesin jam itu yang palsu. Jam itu bertahan paling lama 'two rains season' katanya, berarti sekitar 1-2 tahun saja. Jadi jangan tertipu.

Pasar oleh-oleh dan souvenir di Nha Trang


Cumi kering, cumi abon, manisan mangga, dll semua oleh2 khas Nha Trang ada disini


Stasiun kereta api Nha Trang

Dari sini kami melaju ke sebuah kuil dengan nama Thap Ba Ponagar. Kuil yang dibangun pada abad 9 ini berdiri megah diatas sebuah bukit.

Thap Ba Ponagar

Front View of Thap Ba Ponagar

Pose diantara kemegahan tiang2 batu di Ponagar

River view from Thap Ba Ponagar

Menjelang siang, mobil yang kami tumpangi melaju ke arah stasiun cable car VinPearl, sebuah pulau di seberang Nha Trang. Untuk menaiki cable car ini, kami harus membayar 60.000VND untuk sekali jalan per orang. Ini sudah termasuk tiket masuk ke VinPearl. Cable car ini di klaim muat untuk 8 orang, tapi saya rasa 8 orang is too much. Kami hanya berempat ketika menaiki cable car ini. Perjalanan dengan cable car diatas laut ini sedikit membuat kami deg-degan dibanding dengan naik cable car menuju Genting Highland, Malaysia. Bagaimana tidak,di bawah kami terbentang laut, dan angin laut yang menghembus cable car, menggoyang2kan cable car ini. Perjalanan 15 menit didalam cable car terasa lama, padahal jarak antara pantai Nha Trang dan VinPearl, saya rasa hanya sekitar 2km.

Tiang cable car, taken from insede the cable car

Itu bukit bertuliskan VinPearl !

Stasiun Cable Car di Pulau VinPearl

Pulau ini merupakan DuFan kecil. Ada berbagai macam permainan disini,mulai permainan anak carrousel sampai permainan yang menantang nyali. Yang menarik perhatian saya adalah sebuah kereta kuda yang bertuliskan "Just married". Kereta ini akan mengantarkan kita mengelilingi pulau VinPearl, hanya denga nmembayar 80.000VND dengan kapasitas 4 orang. Sayangnya teman2 kami ga ada yang tertarik, batallah kami menaikinya.. sebagai ganti kecewa saya, saya hanya mengambil gambar kereta ini. menyedihkan..

Kereta kuda yang akan mengajak berkeliling VinPearl

Sayangnya VinPearl masih sepi, entah karena apa. Untuk naik permainan yang ada disini, sama sekali tidak antri, malah cenderung sepi. Padahal untuk naik wahana permainan yang ada di VinPearl, cuma harus membayar rata-rata 20.000 VND. Jika ada satu saja yang menaiki, permainan akan tetap dioperasikan. So, apa ga rugi ya?

Carrousel, salah satu wahana permainan di VinPearl

Topeng monyet, salah satu atraksi di VinPearl
(ada juga ya topeng monyet disini :p )

Pukul 17.00 kami kembali menaiki cable car untuk kembali ke Nha Trang. Dari sini kami menuju rumah salah seorang teman lokal kami yang berasal dari Nha Trang sambil menunggu bus untuk pulang kembali ke Ho Chi Minh. Oya, teman kami ini mempunyai tour agent yang menyewakan mobilnya untuk berkeliling kota Nha Trang. Mobil ini muat sekilar 10-12 orang. Tarif normalnya 1juta VND perhari. Cukup mahal ya?

Pukul 21.00, bus kami melaju meninggalkan Nha Trang menuju Ho Chi Minh..

Read more...

Binh Tay, Ben Thanh, Saigon Center, dan Thuong Xa Tax

Sehari setelah kepulangan suami tercinta dari Kiev, kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami kunjungi (2 minggu saya ngga keluar apartemen sama sekali! bosan euy). Kami merasa di Ho Chi Minh ini, pusat keramaian hanya sedikit (dibandingkan dengan Jakarta sih :p), hampir smua tempat rekreasi turis kami sudah kunjungi. Melihat ke peta Ho Chi Minh sejenak, mata kami tertuju pada satu tempat, Binh Tay Market, yang terletak di distrik 6. Daerah ini merupakan daerah China Town.

Berangkat dari apartemen kami di distrik 1 pukul 12.00 WHCM (maksudnya, Waktu Ho Chi Minh), kami melaju dengan taksi Me Linh ke Binh Tay Market, salah satu pasar di China town. Perjalanan ternyata cukup jauh, ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Suasana China town mulai terasa ketika kami mulai dekat dengan tujuan kami. Banyak gedung2 tua dan tulisan2 china, dan tentu saja terkesan kumuh! Argo taksi menunjukkan harga 71.000 VND, ketika kami sampai di depan pasar Binh Tay. Angka argo termahal selama kami jalan2 di HCM.

Ternyata kami harus kecewa ketika melihat pasar yang kami tuju ternyata memang bukan tujuan wisata :(( Tak banyak turis disini, hanya beberapa yang kami temukan, dan mungkin mereka nyasar seperti kami.

Binh Tay Market, pasar tradisional di China town

Walaupun kecewa dengan penampilan luar pasar ini, kami tetap mencoba masuk ke dalamnya. Disini kami melihat pedagang pakaian, pedagang bumbu-bumbuan, ikan asin. Yah sejenis pasar basah di Indonesia. Kebanyakan orang lokal yang bakal datang kemari.

Untuk mengobati kecewa kami karena tidak mendapatkan sesuatu yang menarik disini, kami mencari tempat untuk me-recharge badan kami ini. Sebuah rumah makan Chinese tak jauh dari pasar kami pilih, alasannya simpel, kami melihat 2 bule makan disini. :p
Jenis makanannya cenderung sama dengan Chinese food di Indonesia, cuman porsi lauknya itu loh, menurut saya terlalu banyak.

Setelah makan kenyang, kami berniat untuk berburu kecap manis. Satu pasar kami putari untuk mendapat kecap manis, tapi ternyata kami hanya mendapati kecap asin. Sebelumnya kami juga mencari di supermarket2 yang ada di mal2, ga juga kami dapatkan si hitam manis ini.
Ya sudah lah trima dengan lapang dada, namanya aja ga di kampung halaman, ga smua bumbu bisa didapatkan.

Sekarang kami kebingungan mencari taksi untuk menuju ke Ben Thanh, sedikit taksi yang lewat disekitar sini tidak seperti di pasar Ben Thanh. Kami hendak naik bus tetapi kami kesulitan menghentikan bus, kami ngga tau dimana bus berhenti. Bus disini ngga boleh berhenti sembarangan, mereka juga tidak mengejar setoran, tapi dibayar negara, jadi mereka lebih tertib.

Kami mencoba berjalan menyusuri jalan disekitar Binh Tay, eh kami malah menemukan jajaran toko yang menjual perlengkapan Natal. Maksud hati ga beli perlengkapan Natal, tp akhirnya beli juga karena tertarik dengan hiasan Natal berbentuk bulat yang biasa ditaruh di pintu (namanya ngga tau.. :p )

Dengan sedikit usaha keras, akhirnya kami mendapatkan taksi (ga jadi naik bus) dan langsung menuju Ben Thanh. Tapi dari Ben Thanh kami justru jalan lagi ke Nguyen Kim untuk melihat harga hp disini. Letaknya tak jauh dari Ben Thanh, sekitar 300m. Disini pusat elektronik HCM sepertinya. gedung 3 lantai ini berisi barang2 elektronik mulai dari handphone, kulkas, kamera, ac dll. Harga hp disini sedikit lebih mahal dari Indonesia, hp yang saya incar Nokia 6300 berharga 3,65juta VND (skitar 2,15juta rupiah).

Dari Nguyen Kim, kami kembali ke Ben Thanh. Ketika berjalan di lorong pedagang buah, bau durian begitu menggelitik dan menggoda kami. Kami kemudian mampir ke seorang pedagang harga durian di pedagang yang kami beli ini 47.000 VND/kg. Cukup mahal, saya rasa kami diberi harga mahal. Di pedagang ini dia menjual sirkaya seharga 35000VND/kg, sebelumnya saya membeli hanya 20000/kg. Kami makan ditempat, ada tempat duduk pendek di sekitar pedagang itu, pedagang itu membuka durian dan meletakkannya pada sebuah wadah plastik, dan siap untuk kami santap.. yummmmyyy....

Berjalan menyusuri jalan disebelah pasar Ben Thanh, kami menemukan pedagang ketan dengan rasa durian (durian lagi). Wuihhh enak banget.. 5000VND untuk sebungkus ketan rasa durian.

Ini dia ketan rasa durian, yummy..

Suasana jalan sekitar Ben Thanh, si bule kok ga takut sakit perut ya?
Oya, tempat duduk warung2 pinggir jalan rata2 begini..


Kami kembali meneruskan perjalanan menuju supermarket di mal Thuong Xa Tax, untuk membeli kebutuhan sehari2. Ehh, di perjalanan kami menemukan sebuah mal yg belum pernah kami kunjungi namanya Saigon Center. Di depan mal ini terdapat ornamen natal yang menarik perhatian kami. Akhirnya, kami menyempatkan poto2 di tempat ini sambil berebut tempat dengan anak kecil yang mau poto juga :D

Me and my husband @Saigon Centre on the evening


Saigon Centre @ night with beautiful Christmas decoration


Thuong Xa Tax, salah satu mal di HCM

Dari Thuong Xa Tax, kami kembali ke Ben Thanh (jangan bingung ya, kami memang bolak balik kesini :p) Kami memang menunggu malam sekitar pukul 19.00 WHCM untuk menikmati makanan di sepanjang jalan di sekitar Ben Thanh. Ada dua lorong jalan yang dipenuhi pedagang makanan, dan rata2 menjual seafood. Tapi ada juga yang menjual pakaian, sepatu, souvenir, dll.

Night Market @ Ben Thanh


Ini dia hewan-hewan yang siap masuk ke perut kami.. huahaha..


Untuk malam ini, kami memesan kepiting lemburi berbalut tepung dengan harga 50.000VND (isinya cuma 2 kepiting, kecil pula, hanya sekitar 10cm) dan kerang saos pedas seharga 30.000VND. Yummyy.. Kami cukup puas dengan makanan ini dan suasananya yg enak. Kami ketagihan untuk balik lagi.


Kepiting Lemburi (Soft shell crab) yang kami pesan di pasar malam Ben Thay
(I know you are drooling.. :D)


Kerang pedas, yang ini yummy juga...
Tapi rasa jahenya cukup kuat (I hate ginger on foods!)


Selesai makan enak, kaki kami mulai terasa pegal, menandakan dia sudah capek menyangga tubuh ini seharian. Kami pun pulang dengan taxi. I miss my bed to relax my foot..

Read more...

Jalan2 di sekitar Notredame Cathedral, Buu Dien, Benh Than

Hari ini kami melanjutkan perjalanan kami ke pusat kota Ho Chi Minh. Tujuan kami sekarang adalah Notredame Cathedral dan sekitarnya. Ini dia foto hasil hunting kami :)

Notredame Cathedral

Notredame Cathedral, beautiful church


Interior of Notredame



Notredame, side view


Tulisan didepan pintu masuk Notredame, gereja ini dibangun tahun 1880


Yang punya blog mau bergaya :D


Central Post Office

Buu Dien, means Post Office. This is central post office in HCM


Interior dalam post office, terpajang foto besar Paman Ho Chi Minh

Peta Saigon jaman dulu


In here, they sell souvenir, quite cheap, so a lot of tourist here

Tuh dibelakang telepon umum, bagus ya kabinnya?
Yang depan? itu suamiku, lg pura2 baca peta :p


Ben Thanh Market

Front view Ben Thanh Market
Here is the place to buy some souvenir, T-shirt, traditional Vietnamse costum, bag, fresh flower.
A lot of food stall here, and they are sell vegetable, seafood and spices.
All you need is here. But don't forget to bargain at least 50%. and then raise it little by little.


Side view of Ben Thanh Market.
On this side, they sell fresh flower.


Opera House

If you like art, here is the opera house.


My husband wanted to be taken his picture in front of this banner.
This sign is extremely illegal in Indonesia :D
but here, it is every where on every corner of this city



Setelah hunting photo, kami hendak pulang ke hotel di daerah Anh Phu. Kami menyetop taxi dengan merek Vina Taxi dengan nomor taxi 1288 dan kami pun melaju pulang ke hotel kami di daerah Anh Phu.
Begitu sampai di depan hotel, argo taxi menunjukkan angka 52.000 VND. suamiku menyuruhku mengambil uang dari dompetnya. Uang yang terkecil di dompetnya adalah 100.000VND, kuberikan padanya, tapi ternyata dia ngga mau memberikan uang yang ngga pas (menurut buku Anthony Bourdain yang dia baca, selalu berikan uang pas, karena mereka selalu beralasan tidak ada kembalian). Dia mencari lagi (karena merasa mempunyai uang 50.000VND) dan kemudian dia memberikan uang kepada pak supir dan sedikit tips.

Saat malam hari ketika kami hendak makan, suamiku mencari uang 500.000VND di dompetnya. Dicari-cari didalam dompet, ngga ketemu juga. Dan tiba2 kami sadar bahwa uang yang kami berikan kepada supir taxi adalah 500.000VND :o OMG! 10x lipat dari yg harusnya kami bayar. Lemas langsung kami menyadarinya. Kami sedikit saling menyalahkan, karena saya sudah memberikannya uang 100.000 VND, tapi tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya berpikir bahwa the taxi driver is not honest, masak sih dia ngga berpikir bahwa ngga mungkin kita memberikan tips 10x lipat. And I think The taxi driver did not need to work again for that day, just went home and slept! (Salahkan buku Anthony Bourdain :D yang dibaca suamiku)

Pelajaran di hari ini :
  • Pisahkan tempat uang berjumlah besar dan kecil apalagi Anda belum familiar dengan mata uang asing yang baru. Kalo tidak mungkin anda akan punya pengalaman yang sama seperti saya.
  • Usahakan segera memecah uang dengan nominal besar jika anda mendapatkannya.
  • Ternyata pengalaman ini bukan hanya kami, tapi juga teman suami saya yang berasal dari Denmark. Dia bahkan mengalaminya lebih dari sekali (apalagi saat dia mabuk :p ), jadi berhati-hati, karena kemungkinan terjadinya besar.

Read more...